Bukit Kelam
Mendaki formasi batu monolit terbesar ke-2 di dunia yang menyimpan keanekaragaman hayati endemik
Sejarah Kota Sintang berawal dari sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Sepauk. Pada abad ke-13, tokoh bernama Demong Irawan memindahkan pusat kerajaan ke titik persimpangan antara Sungai Kapuas dan Sungai Melawi karena lokasinya yang sangat strategis untuk pertahanan, ekonomi, dan kelancaran komunikasi. Pemindahan pusat pemerintahan ke lokasi pertemuan dua arus sungai inilah yang membuat namanya berganti menjadi Kerajaan "Senentang", yang seiring waktu sebutannya berubah menjadi Sintang.
Memasuki abad ke-18, agama Islam mulai menyebar di wilayah ini melalui jalur perdagangan sungai, yang kemudian membawa perubahan besar pada sistem pemerintahan menjadi kesultanan, di mana Sultan Nata menjadi penguasa pertama yang memakai gelar Sultan. Jejak perjalanan panjang kota ini, mulai dari era kerajaan hingga masuknya pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1822, masih dapat dilihat hingga kini melalui peninggalan bersejarah seperti Keraton Al-Mukaromah yang berdiri di tepi Sungai Kapuas.
Mendaki formasi batu monolit terbesar ke-2 di dunia yang menyimpan keanekaragaman hayati endemik
Rasakan kesejukan ekowisata hutan hujan tropis alami yang uniknya tumbuh rimbun tepat di tengah hiruk-pikuk pusat Kota Sintang
Merasakan kemegahan arsitektur kayu belian pada masjid bersejarah yang telah menjadi saksi kejayaan Kesultanan Sintang di tepi Kapuas
Temukan ketenangan dan kedamaian spiritual di destinasi ziarah nan asri yang menyatu sempurna dengan rindangnya alam Bukit Kelam
Saksikan kemegahan air terjun raksasa yang tersembunyi di pedalaman hutan, menawarkan panorama alam epik yang siap memanjakan jiwa petualang Anda
Telusuri jejak kejayaan masa lampau di dalam bangunan keraton otentik yang menyimpan ragam pusaka dan kisah panjang peradaban Sintang
Melihat langsung aktivitas ibu-ibu suku Dayak di Rumah Betang Ensaid Panjang yang sedang membuat kain tenun cantik menggunakan pewarna alami warisan leluhur
Pesta rakyat meriah ala suku Dayak untuk mensyukuri hasil panen. Acaran yang penuh dengan tarian adat dan suasana kebersamaan yang hangat
Tradisi makan bersama dengan cara duduk bersila khas Melayu. Semua orang membaur menikmati hidangan tanpa membeda-bedakan status atau jabatan
Tradisi silaturahmi keliling kampung dari rumah ke rumah. Suasananya sangat akrab, penuh kekeluargaan, dan pastinya banyak suguhan kue khas yang enak
Perpaduan eksotis ikan patin sungai segar dalam kuah fermentasi durian yang menghadirkan ledakan rasa asam, manis, dan pedas
Masakan tradisional Dayak dari umbut rotan muda yang berpadu dengan ikan sungai, menciptakan sensasi rasa gurih, asam, dan sedikit pahit yang khas
Ikan lais tangkapan sungai Sintang yang diawetkan melalui pengasapan tradisional, menghasilkan cita rasa gurih dengan aroma smokey otentik.
Oleh-oleh otentik Sintang dari buah eksotis asam maram yang menawarkan perpaduan rasa asam manis
Sup kaldu bening ayam kampung yang dimasak perlahan dengan rempah liak padi, menyuguhkan kehangatan otentik khas Sintang